Langsung ke konten utama

Proses Pengembangan Koleksi di Perpustakaan

Pengertian Pengembangan Koleksi

Menurut (Gunawan dan dkk 2016), pengembangan koleksi merupakan kegiatan untuk menghasilkan bahan Pustaka baru di perpustakaan berdasarkan hasil seleksi dan evaluasi bahan pustaka serta menampung permintaan dari para peneliti untuk menunjang teori-teori yang diperlukan. Kegiatan pengembangan ini melibatkan staf perpustakaan, para profesor, para peneliti, pemustaka/pengguna perpustakaan.

Sedangkan menurut (Soeatminah 1992 : 66) mengartikan pengembangan koleksi merupakan salah satu kegiatan kerja perpustakaan yang bertugas menyediakan sumber informasi dan memberikan pelayanan informasi kepada pemakai sesuai dengan kebutuhan dan minat pemakainya.

Dari pengertian dari atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan koleksi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk menambah koleksi bahan pustaka yang akan digunakan oleh para pengguna perpustakaan.

 

Tujuan Pengembangan Koleksi

Tujuan dari pengembangan koleksi perpustakaan yaitu untuk membangun sebuah koleksi perpustakaan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan tetap memperhatikan tuntutan (demand) minat (need) serta selera (taste) dari masyarakat pengguna perpustakan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pengguna tersebut setiap jenis koleksi harus dikembangkan sesuai dengan visi dan misi lembanganya serta kebutuhan para penggunanya (Winoto dan dkk, 2018).

Adapun tujuan pengembangan koleksi dapat dilihat sebagai berikut:

1) Menambah jumlah koleksi atau mengharapkan untuk memilikinya.

2) Memperoleh koleksi yang ditulis oleh pengarang yang populer di kalangan pembaca.

3) Memenuhi kewajiban perpustakaan untuk pencapaian tujuan lembaga.

4) Menambah nilai koleksi melalui pengadaan bahan pustaka yang aktual dan bahan pustaka dasar dalam suatu subjek yang penting.

5) Memperoleh bahan-bahan pustaka atau buku-buku referensi yang mampu mensuplai informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. 

 

Proses Pengembangan Koleksi di Perpustakaan

Menurut (Evans and Saponaro 2005), bahwa proses pengembangan koleksi (collections development) itu memiliki 6 (enam) tahapan sebagai berikut:

1. Analisis Komunitas (Community Analysis)

Bagian analisis komunitas disebut juga sebagai analisis studi kebutuhan pengguna. Aktivitas analisis studi kebutuhan bisa dilaksanakan dengan dua (2) metode, yaitu metode formal dan metode nonformal. Pada tahap ini bisa menghasilkan profil pemustaka dan kebutuhan akan koleksi perpustakaan yang terpenuhi dan tercukupi. Pada bagian ini juga, pustakawan berkewajiban terus memperhatikan komunitas pengguna secara keseluruhan, baik itu dari pengguna potensial ataupun pengguna aktual.

2. Kebijakan (Collection Development Policy)

Profil pengguna dan akan kebutuhan koleksi bagi pengguna itu didapatkan dengan gambaran yang lengkap, tahap berikutnya adalah membuat collection development policy atau kebijakan pengembangan koleksi. Pada bagian ini semua yang berhubungan dengan perihal yang bersifat umum, seperti planning pengembangan koleksi yang akan dilaksanakan, kriteria koleksi yang dikembangkan, mengutamakan kriteria koleksi yang akan dilaksanakan pengembangan koleksi, pengusulan anggaran (budget), siapa-siapa saja yang akan ikut melaksanakan pengembangan koleksi, dan sebagainya.

3. Pemilihan Bahan Koleksi atau Pustaka

Tahapan berikutnya dalam collections development adalah pemilihan bahan koleksi atau pustaka. Pada bagian ini petugas perpustakaan melakukan seleksi koleksi. Pada saat melakukan penyeleksian biasanya bentuan dengan menggunakan alat menyeleksi dan alat memverifikasi.

4. Akuisisi Koleksi (Pengadaan Bahan Pustaka)

Jika pada bagian seleksi petugas perpustakaan menyeleksi koleksi yang akan dimiliki maupun dibeli oleh perpustakaan, maka pada bagian pengadaan ini petugas perpustakaan akan melaksanakan pengadaan terhadap bahan pustaka. Akuisisi bahan pustaka ini memiliki cakupan cukup luas, bahwa bukan sekedar hanya pembelian saja, tetapi merupakan tahapan yang cukup luas seperti pemesanan, pengadaan hingga tahapan administrasipun yang berhubungan dengan pengadaan bahan pustaka perpustakaan.

5. Weeding

Weeding atau penyiangan bahan pustaka merupakan kegiatan menarik koleksi dari tempatnya (rak/lemari). Terdapat berbagai alasan yang menjadi dasar pertimbangan dalam melakukan tahapan ini, yakni keterbatasan ruang atau demi menghemat tempat, koleksi tidak layak untuk dilayankan (rusak), terbit edisi dan tahun terbaru, dan lain-lain.

6. Evaluasi Pengembangan Koleksi

Tahapan terakhir dalam rangkaian kegiatan collections development adalah evaluasi koleksi. Pada tahapan ini terdapat dua cara yang dapat dilakukan dalam evaluasi pengembangan koleksi yakni a). evaluasi proses yaitu mengevaluasi setiap tahapan dalam pengembangan koleksi dan (b). mengevaluasi hasil yaitu dengan mengevaluasi tujuan kegiatan pengembangan koleksi dengan hasil yang didapatkan dalam pengembangan koleksi.

 

Dengan demikian, kegiatan proses pengembangan koleksi di perpustakaan memiliki 6 (enam) tahapan yaitu analisis masyarakat atau komunitas, kebijakan seleksi (collections development policy), menyeleksi koleksi (bahan pustaka), pengadaaan (akuisisi), penyiangan (weeding) dan mengevaluasi koleksi. Jadi, dalam proses pengembangan koleksi, harus ada perumusan kebijakan pengembangan koleksi, yang dapat digunakan sebagai landasan untuk memenuhi keenam kriteria tersebut. Pada akhirnya, tujuan adanya pengembangan koleksi di perpustakaan adalah untuk membuat pencarian informasi menjadi mudah, cepat, efektif, dan efisien.

 

Referensi

Evans, Edward G, and Zarnosky Margaret Saponaro. (2005). Developing Library and Information Center Collections Fifth Edition. United States of America: Library and Information science text series.

Gunawan, Darwanto, dan Lubis. (2016). Pengembangan Koleksi Pada Perpustakaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jurnal Pari. Vol 6 (1), hal 31-42.

Soeatimah. 1992. Perpustakaan, Kepustakawanan Dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius.

Winoto, Yunus, and Dkk. 2018. Dasar-Dasar Pengembangan Koleksi. Kebumen: Intishar Publishing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sifat Organisasi: Organisasi Informal

  Pengertian Organisasi Informal Menurut Irawan (2018), organisasi informal adalah struktur sosial yang saling terkait yang mengatur bagaimana orang bekerja sama dalam suatu kegiatan. Ini adalah gabungan dari perilaku, interaksi, norma, hubungan pribadi dan profesional melalui dimana pekerjaan dilakukan dan hubungan dibangun di antara orang-orang yang memiliki afiliasi organisasi atau kelompok afiliasi yang sama. Organisasi informal berkembang secara organik dan spontan sebagai respons terhadap perubahan lingkungan kerja dan dinamika sosial yang kompleks dari para anggotanya. Organisasi informal mereka terorganisasi secara lepas, tidak terikat, bersifat fleksibel, tidak terumuskan dengan baik, sifatnya secara    spontan,   serta    tidak    memiliki    struktur    yang    jelas    (Fithriyyah, 2021). Organisasi informal adalah interaksi hubungan pribadi dan sosial yang terjadi secara langsung baik seca...

Organizing sebagai Fungsi Manajemen Perpustakaan

Pengertian Organizing Organizing atau pengorganisasian dalam konteks manajemen adalah suatu proses yang bertujuan untuk merancang struktur formal dalam sebuah organisasi. Proses ini melibatkan pengelompokan dan pembagian tugas di antara anggota organisasi atau karyawan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efisien. Pengorganisasian sebagai suatu proses penentuan, pengelompokkan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relative didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitasaktivitas tersebut (Kristiawan et al., 2017). Dalam konteks perpustakaan, pengorganisasian mencakup berbagai aspek yang membantu operasi dan pencapaian tujuan perpustakaan berjalan lancar. Dalam artikel ini akan membahas fungsi pengorganisasian dalam manajemen perpustakaan, serta tindakan yang diperlukan untuk m...